all routesHello guys ! Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku menggunakan Google Maps app. Yang pastinya ini bukan pertama kalinya aku menggunakan Google Maps, seperti kemarin saat aku liburan di Yogyakarta juga menggunakannya. Walau selama liburan di Yogyakarta dapat sekali di ajak muter-muter sama Google Maps saat mau ke Stonehenge dan hasilnya kami batal kesana. Sedangkan yang sekarang, pengalamannya yang benar-benar buat jantung berdebar. Di bawa ke hutan belantara walau memang sampai tujuan sih ya. Tapi menurutku jalannya sungguh ekstrem sih walau semua jalanannya sudah menggunakan aspal.

Bermula dari dapat undangan nganten temanku yang berlokasi di Tegeha, Buleleng. Aku berencana datang kesana dengan teman baikku yang memang kebetulan di undang juga namanya Krisna. Kami sampai disebut wanita strong karena kuat berdua doang bolak-balik Denpasar Buleleng. Menurutku yang strong sih Krisna aja soalnya dia doang yang bisa bawa mobil hehehe (maafkan aku yaa wkwkw). Kami awalnya punya planning berangkat dari rumahku sekitar jam 9 am WITA. Berhubung aku telat bangun dan punya kesibukan masing-masing, alhasil Krisna baru sampai rumahku jam 12 pm WITA. Wkwkwk sumpah ngaret banget dan kita kelaparan.

Baca Juga :Β Spot Foto di Bali Handara Golf & Resort Bali

Selama perjalanan kita mampir dulu ke Drive Thru McDonald’s Sanur dan beberapa kali ke Indomaret untuk numpang ke toilet. Cuacanya hujan melulu, jadi kami berjalan pelan-pelan yang penting selamat. Kami juga sudah waspada karena daerah yang akan kami lewati pasti licin dan berkabut. Kalau lewat jalan utama, seharusnya kami melewati Jl. Raya Gitgit. Karena kami menggunakan Google Maps dengan pilihan Fastest Route, ya sudah kami ikutin aja dan gak nyangka bakalan kaya gini kejadiannya. Kami melewati Desa Gobleg. Awalnya jalannya yang besar mulai mengecil dan mengecil sampai-sampai itu jalan benar-benar bisa untuk satu mobil saja. Tepat disebelahku itu jurang dan pegunungan tinggi.

Situasi semakin gelap karena mendung. Syukurnya walau di pedalaman, masih ada sinyal internet. Kurang lebih sebanyak 3 kali kejadian GPS Signal Lost. Ya ampun aku nyebut nama Tuhan dan Ibuku. Jalannya ada turunan dan naik yang sangat tajam. Bahkan yang buat aku takut, disebelah kananku ada longsor kecil dan beberapa tanahnya udah di jalanan. Aku terus berdoa dan ngingetin Krisna buat hati-hati. Yang buat aku takut lagi, kalau ada mobil dari arah berlawanan, siapa yang bakalan ngalah? Apa yang akan terjadi?

google maps

rute di map ketika di hutan belantara

Ketika kami melewati jalan yang agak besar, tiba-tiba handphoneku berdering dan itu telepon dari Ibuku. Ketika aku angkat langsung tiba-tiba mati. Aku cek ternyata sinyal XL ku hilang alias No Service. Syukurnya GPS tetep jalan di hanphone ku yang lain karena menggunakan Telkomsel. Akhirnya kami baru tiba di tempat tujuan sekitar pukul 5.30 pm WITA. Sesampai disana aku masih bengong dulu beberapa menit, berasa nyawaku masih ketinggalan di hutan tadi. Aku baru bisa membalas pesan Whatsapp dari Ibuku karena baru dapat sinyal. Saat kami malamnya kembali ke Denpasar, akhirnya kami melewati jalan besar yaitu Jl. Raya Gitgit. Cuaca malam itu hujan deras dan berkabut dan aku baru sampai rumah pukul 10 pm WITA. Saat aku sampai dirumah, aku baru bercerita kejadian tadi kepada Ibuku. Ternyata di waktu yang bersamaan, firasat ibuku bilang kalau aku kenapa-napa. Makanya ibuku menghubungi aku dan ngirim pesan kenapa gak ada respon. Ibuku takut kalau mobil jatuh ke jurang atau sebagainya karena jalan disana licin ketika hujan apalagi berkabut. Syukurnya semuanya baik-baik saja.

Baca Juga : Trip to Singapore 5D4N Part 1

So, bagi kalian yang mau menggunakan Google Maps terutama ke daerah pegunungan, lebih baik dilihat seksama dulu menggunakan Street View nya agar tidak terjadi kejadian seperti aku. Kadang Google Maps tidak memperhatikan medan untuk menentukan rute tercepatnya. Mending ditimbang-timbang dulu dan di cek apakah jalannya besar atau tidak. Kalau di kalian cari di Google, ada beberapa kejadian yang serupa seperti yang aku alami.