Mungkin kalian sudah begitu sering dengar mengenai Sinusitis, atau biasanya orang-orang menyebutnya Sinus karena lebih singkat. Biasanya ketika aku berobat dan tidak sengaja bertemu dengan beberapa teman ibuku, mereka mengaku sedang terjangkit Sinus. Ketika aku menunggu dipanggil kasir untuk membayar biaya pemeriksaan, aku membuka Google untuk membaca mengenai Sinusitis. Ternyata banyak juga masyarakat yang pernah terkena Sinus. Apakah itu Sinusitis atau Rhinosinusitis?

Pengertian, Jenis, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Sinusitis

Aku bakal jelasin tentang Sinus sedikit aja ya karena di Google sudah banyak banget yang bahas. Sinusitis merupakan peradangan yang terjadi pada dinding Sinus, dimana Sinus adalah rongga kecil yang kosong (berisi udara) yang berada di belakang tulang pipi, dahi, mata, dan hidung. Untuk jenis Sinusitis ada yang menyebutkan 4 dan ada juga yang 3. Untuk 4 jenisnya adalah Sinusitis akut, Subakut, Kronis, dan Kambuhan. Kalau yang menyebutkan hanya 3 saja, yang tidak disebutkan adalah Sinusitis Subakut.

Untuk gejalanya yang umum adalah pusing atau sakit kepala, hidung terasa tersumbat, demam diatas 38 C, mengeluarkan cairan kuning kehijauan, nyeri di wajah dan terasa sakit ketika ditekan, napas terasa bau, dan indra penciuman hilang. Penyebab umum Sinusitis adalah terjadinya pembengkakan dinding di dalam hidung yang biasanya disebabkan oleh virus flu atau pilek. Selain itu faktor pemicunya bisa saja infeksi jamur, kebiasaan merokok, infeksi gigi, dan alergi. Untuk pengobatannya, ada yang bisa sembuh tanpa perlu ke dokter dan membutuhkan waktu untuk sembuh sekitar 2 – 3 minggu. Tetapi akan lebih baik menemui dokter agar penanganannya tidak terlambat.

Source :Β https://www.alodokter.com/sinusitis.html

Komplikasi Sinusitis

Bagi Sinusitis yang tidak diberikan pengobatan yang tepat dan benar bisa saja menyebabkan Sinusitis Kronis. Apabila Sinusitis Kronis ini tidak diberikan penanganan yang tepat, bisa menyebabkan komplikasi seperti :

  • Meningitis jika infeksi tersebut menyebar ke dinding otak
  • Kerusakan pada indera penciuman secara keseluruhan atau sebagian
  • Penglihatan berkurang atau mengalami kebutaan
  • Infeksi pada tulang atau kulit

sinusitis

Sampai sini, sudah paham kan apa itu Sinusitis? Bila terkena flu atau pilek lebih dari 5 hari, ada baiknya hal ini dikonsultasikan ke dokter agar penanganannya tidak terlambat dan tepat. Pengalaman Sinusitis ku ini sebenarnya bukan berawal dari flu saja, melainkan radang tenggorokan yang datang secara tiba-tiba. Bisa jadi ini merupkan efek dari Amandel yang sudah makin membesar. Sebelumnya, sudah beberapa dokter umum menyarankan ku untuk konsultasikan masalah Amandel ini ke dokter spesialis THT bila radang tenggorokanku sudah membaik. Kenapa begitu? Karena aku termasuk orang yang terlalu sering mengalami radang tenggorokan dan sering drop kondisinya.Β Karena sakit yang aku alami ini mulai dari tanggal 26 Juni 2018, jadinya ceritanya agak lumayan panjang lah ini hehehe. Semoga yang baca enggak bosan ya πŸ™‚ Dan ku juga berharap semua yang nemu tulisanku ini dalam keadaan sehat. Okay, aku mulai aja lah ya ceritanya.

26 Juni 2018

Hari itu ku anggap seperti hari-hari biasanya aku terkena radang tenggoroka. Ku pikir dalam 3 hari kedepan, kondisi tenggorokanku akan membaik. Toh juga biasanya hanya dengan minum Adem Sari secara rutin (ini bukan promosi ya hahahahaha), minum vitamin C, banyak minum air, dan permen Meiji yang biasanya aku sebut. Permen untuk radang tenggorokan itu bisa di beli di apotek. Rasanya manis dan bentuknya seperti permen polo. Biasanya, dengan konsumsi beberapa yang sudah ku sebutkan diatas, kondisiku mulai membaik. Tetapi pada kenyataannya, kondisiku tidak membaik hampir selama seminggu. Seminggu berlalu, yang ada malah jadi batuk-batuk. Hanya saja batuknya masih ringan.Β Gejala lainnya yang aku alami sudah pasti cepat lelah. Enggak semangat buat ngapa-ngapain. Mau nelen air liur aja rasanya enggak enak banget. Dari sini aku ngerasa aneh, kok tumben ya lama banget aku radang tenggorokannya?

2 Juli 2018

Karena sempat membaik dalam beberapa hari, aku tidak jadi ke dokter. Tetapi yang ada setelah membaik, eh kambuh lagi jadinya selama 2 minggu itu kondisinya naik turun naik turun cantik hehehee. Karena kondisi enggak jelas ini, akhirnya ku membeli obat batuk di apotik.

9 Juli 2018

Sampai sana udah di tanya, batuknya berdahak atau tidak, ada flu atau tidak. Kebetulan saat itu yang aku rasakan, batuk kering dan tidak ada flu. Selama seminggu dengan obat batuk yang aku beli tidak ada perubahan sama sekali. Yang ada batuknya makin parah aja, terutama tengah malam. Maka ku putuskan lah untuk ke klinik yang sudah ku daftarkan sebagai Faskes I menggunakan BPJS.

16 Juli 2018

Ini klinik buat ku heran banget dah. Mau dalam keadaan sepi mau kagak, entah kenapa antri untuk di panggil ke dokter umum minimal menunggu setidaknya 45 menit sampai 1 jam. Padahal, ada 3 ruangan yang masing-masing terdapat dokter umum. Ini lah yang buat aku males banget ke klinik ini. Mau gimana lagi ya, aku bersabar menunggu, sampai aku coba melupakannya dengan bermain game Lineage 2 Revolution (L2R). Kemudian namaku di panggil. Lalu aku di periksa dan diberikan obat. Aku enggak inget nama obatnya, yang pasti fungsinya untuk meredakan batuk dan obat untuk radang tenggorokan. Ku minum obatnya sampai habis dan tidak ada perubahan. Sehingga minggu depannya ku kembali ke klinik itu lagi.

23 Juli 2018

Ritual seperti biasanya, menunggu selama 1 jam baru namaku di panggil. Ku sampaikan keluhanku bahwa sudah dari tanggal 26 Juni 2018 kejadiannya. Ku jelaskan secara detail apa saja obat yang telah ku minum. Saat itu aku masih ingat nama-nama obatnya, kalau sekarang ditanyain sudah lupa hahaha. Kemudian dokter itu cek tenggorokanku, dan dokternya menjelaskan bahwa amandel ku sudah besar dan ini yang menyebabkan radang tenggorokan dan batuk-batuk. Kali ini, batukku malah jadi batuk berdahak, dan dahaknya sama sekali enggak mau keluar. Rasanya nyangkut-nyangkut terus di tenggorokan.Β Dokter itu meresepkan obat dan ku minum obat itu sampai habis. Lagi-lagi tidak ada perubahan sama sekali. Kali ini aku bingung sih mau gimana lagi. Balik ke klinik itu lagi lalu diberikan surat rujukan? Atau langsung ke poliklinik RS? Setelah berdiskusi dengan ibuku, akhirnya aku memilih untuk ke poliklinik RS biar enggak nunggu lama-lama di klinik itu.

30 Juli 2018

Sehabis pulang kerja aku langsung cepat-cepat ke RS itu (maaf ya enggak enak sebut nama RSnya hehe). Yah aku sebut aja RS A ya biar gampang dan enggak membingungkan. Waktu itu jam 4 PM aku sudah ada di RS biar enggak antri lama. Disana ku jelaskan lagi dari awal gejalanya apa saja dan obat apa saja yang sudah aku minum. Dokter umum ini ku sebut dokter A ya, memberikan penjelasan bisa jadi amandelnya ini yang menjadi penyebabnya karena amandelnya sudah besar. Karena belum diberikan antibiotik oleh dokter sebelumnya, maka dokter A memberikan antibiotik, pengencer dahak, dan untuk radang tenggorokan. Karena aku dirumah punya banyak stok obat penurun panas, dokter A tidak meresepkan obat itu. Obat penurun panas itu diminum kalau ada demam dan pusing. Hari itu ku pulang dengan harapan aku cepat sembuh. Rasanya lama banget aku sakit kali ini. Biaya yang aku keluarkan kalau enggak salah tidak lebih dari IDR 100.000.

6 Agustus 2018

Berhubung tidak ada perubahan, aku kembali lagi menemui dokter A. Aku pikir aku akan dirujuk ke dokter spesialis paru-paru. Ternyata aku di rujuk ke dokter spesialis THT. Aku sempat terbengong beberapa saat. Kok bisa ya aku di suruhnya ke THT? Pikiranku langsung kemana-mana, aku banyak baca tentang amandel di Google sambil nunggu antrian lagi untuk di panggil. Sebut saja dokter B ya untuk dokter THT di RS A. Menurutku dokter B ini kurang banyak memberikan informasi, kalau di tanya baru mau jelasin dan itupun juga enggak terlalu jelas. Rasanya di dalam ruangannya enggak lebih dari 5 menit. Di cek tenggorokan, hidung, dan telingaku. Komentarnya hanya amandelnya besar dan minum obat dulu baru kontrol lagi kalau obatnya sudah habis. Obat yang diberikan saat itu antibiotik dan pengencer dahak. Sempat sih dokter B ini bertanya ada flu atau tidak. Ku jawab apa adanya, memang enggak ada flu sama sekali saat itu. Aku sempat berpikir, kok dokter B nanya aku ada flu atau enggak ya? Jadi selama aku minum obat itu seminggu, aku banyak baca mengenai amandel dan sinusitis. Kenapa baca sinusitis? Karena aku tiba-tiba teringat dengan teman ibuku yang pernah bolak balik dokter spesialis THT.

Karena ceritanya lumayan panjang, lanjutannya di Part 2 yah πŸ™‚