Pengalaman sakit kali ini benar-benar tidak akan ku lupakan. Diare yang sampai membuatku panas tinggi yaitu 40,3 derajat Celcius. Semuanya terjadi begitu cepat kurang dari sehari. Penyebabnya adalah bakteri Entamoeba Coli yang aku enggak tahu bisa masuk ke tubuhku kapan dan dimana. Jadi aku bakalan ceritain kronologinya sampai aku sembuh.

Pada tanggal 9 Januari 2018, pukul 7 am aku tiba-tiba ingin buang air besar yang diiringi perut mules yang hebat. Setelah BAB, aku sempat berpikir untuk Day Off hari itu karena tiba-tiba badan terasa lemas. Apalagi BAB ku langsung encer. Aku berpikir ini akan berlangsung beberapa jam, sehingga aku berniat untuk ijin tidak bekerja. Aku bertanya kepada salah satu teman kantor, apakah dia ada mengambil hari kerja di hari Minggu? Kalo iya, aku mau ambil hari Minggu sebagai pengganti Day Off. Berhubung temanku bilang enggak, aku memilih tetap berangkat ke kantor.

Briefing di pagi hari sudah ditemani dengan perut mules. Selama bekerja, beberapa kali ingin BAB. Tetapi tiap kali mau bangun dari tempat duduk, rasa ingin BAB itu hilang. Sekitar pukul 10 – 10.30 am, aku mendadak menggigil. Aku masih berpikir positif bahwa aku kedinginan karena AC. Kebetulan aku memang tidak kuat dengan AC. Lama kelamaan hingga pukul 12 pm, kok makin menggigil ya? Kepala sudah pusing banget tetapi aku masih bisa bercanda dengan teman kantor. Aku coba makan siang di restoran kantor, kebetulan kantorku di hotel. Ya ampun rasanya hambar banget. Udah enggak bisa ngerasain makanan lagi.

Akhirnya pada pukul 1 pm aku memutuskan untuk pulang. Udah enggak kuat lagi sama panas dan pusingnya. Temanku menawarkan bantuan untuk mengantarku ke rumah, tetapi aku nolak dengan alasan enggak mau ngerepotin. Alhasil, 5 menit sebelum sampai rumah aku menangis dijalan. Rasanya mau pingsan, udah enggak tahu panasnya berapa derajat. Udah ngucap doa berkali-kali berharap selamat sampai rumah. Setiba di rumah, langsung rebahan di ruang tamu minta selimut dan termometer. Saat itu, suhu tubuh panasnya 38,8 derajat Celcius. 10 menit kemudian aku mengukur lagi sudah 39,5 derajat Celcius. Kemudian aku cek lagi beberapa menit kemudian, dan ini benar-benar suhu terpanas selama hidupku, 40,3 derajat Celcius. Enggak pake babibu lagi, langsung tancap gas ke UGD Bali Royal Hospital.

Karena kami semua panik ya, enggak kepikiran kenapa enggak ke Prima Medika Hospital yang jauh lebih dekat dari rumah. Syukurnya juga hari itu ada kakakku, kalau enggak ada, bakalan repot lagi nunggu taksi online. Belum lagi, di daerah Renon sedang macet karena ada orasi kalau enggak salah. Beberapa jalan ditutup sehingga terjadi kemacetan panjang. Rasanya mau mati saat itu, karena panasnya udah pake banget plus rasanya sesak napas. Kurang lebih sekitar pukul 3 pm baru di ambil tindakan di UGD BROS.

Di UGD, aku langsung di pasangkan selang oksigen karena aku sesak napas. Aku aja sendiri bingung, kenapa aku sesak napas. Aku pikir itu karena suhu tubuhku terlalu panas makanya sesak napas. Pakai acara pembuluh darahku kecil pula, akhirnya perawat mengambil keputusan untuk memasang jarum infus di tangan kanan. Sakitnya ya Tuhan, aku sampai teriak di UGD. Sekitar jam 5 pm kondisiku mulai membaik, baru bisa tidur di UGD. Karena hal itu, pihak dokter jaga mengatakan aku bisa pulang dan akan dibekali obat penurun panas bila panasku datang lagi. Ibuku sudah tanda tangan bill-nya, ehhh aku pusing lagi dan mulai menggigil. Akhirnya aku di opname hari itu juga, karena aku panas lagi pukul 6.30 pm.

Dari hari itu sampai tanggal 12 Januari 2018, aku mengalami demam berulang kali dan mengigil hebat. Ketika dimasukkan Sanmol cair, baru aku mulai berkeringat dan membaik. Di hari pertama tersebut, malam hari aku di kabari oleh perawat untuk melakukan puasa makan selama 10 jam untuk pengambilan sample darah. Pengambilan darah ini bertujuan untuk tes kolesterol, diabetes, dan lainnya. Selama menjalani puasa, aku sempat menggigil lagi pada hari kedua pukul 3 am. Tidak luput juga diare beberapa kali sehingga baru bisa tidur pada pukul 4.30 am. Pengambilan sample kotoran juga di hari pertama. Hasil dari sample pertama mengatakan tidak ditemukannya bakteri pada kotoranku.

Kunjungan dokter di hari kedua, dokter mengatakan bahwa harus menguji sample kotoran yang kedua karena dokter yakin terdapat suatu bakteri sehingga menyebabkan diare dan panas tinggi. Berhubung BAB ku sudah sangat cair sekali, aku mau enggak mau musti BAB menggunakan plastik agar memudahkan pengambilan kotoran. Hasil dari sample kotoran kedua mengatakan ditemukannya bakteri Entamoeba Coli pada kotoranku. Hasil dari tes darah seperti kolesterol dan diabetes semuanya normal. Sehingga pengobatan menggunakan antibiotik tetap dilanjutkan. Sebenarnya ada pengobatan yang lebih mudah dengan memasukkan obat ke lubang anus. Hanya saja pasti banyak pasien yang merasa tidak nyaman, sehingga cara lainnya adalah menggunakan antibiotik yang pada beberapa orang akan menyerang lambungnya, salah satu contohnya seperti aku.

Di hari ketiga tangan kananku yang dipasang infus sudah mulai mengalami nyeri dan bila dimasukkan Sanmol dengan kecepatan yang seperti biasa juga sudah nyeri banget. Sehingga di hari itu diputuskan untuk memindahkan jarum infus ke tangan kiri. Pemindahan jarum tersebut dilakukan di hari ke 3 pada pukul 11 pm. Di kamar aku udah teriak kesakitan saat ditancapkan jarumnya, perawat yang sedang bertugas juga sampai keringetan wkwkwkw. Berhubung diare ku sudah berkurang walaupun perut mulesnya belum berkurang, dokter mengatakan aku bisa pulang keesokan harinya. Aku jadi bersemangat untuk bisa pulang, dan memang benar kenyataannya aku pulang keesokan harinya.

Pengobatan bakteri Entamoeba Coli pun berlanjut dirumah dengan antibiotik. Sampai pada 18 Januari 2018, rasa mual dan susah makan juga masih menyerang. Tetapi kalau dari sisi BAB sudah mulai padat. Kalau dihitung, total aku mengalami diare yang pasti lebih dari 30 kali. Bayangkan coba bagaimana rasa sakit pada anus dan perut. Belum lagi demam yang sangat tinggi sampai menggigil. Ini benar-benar pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan, mengalami demam yang super tinggi yang disebabkan oleh bakteri Entamoeba Coli.

Untungnya dokter spesialis penyakit dalam ini bisa dihubungi menggunakan WhatsApp, aku mengeluhkan gatal pada anus semenjak berhentinya diare. Bahkan sempat panas juga di malam hari dengan suhu tubuh 38.3 derajat Celcius. Kemudian dokter menyarankan untuk membeli obat penurun panas dan salep untuk meredakan gatal pada anus. Semoga semuanya cepat berakhir.