Mungkin masih banyak yang belum tahu apa itu skoliosis. Biasanya yang paling banyak di ketahui oleh masyarakat adalah Osteoporosis. Padahal, pengetahuan ini harusnya banyak orang yang tahu karena Skoliosis ini sudah pernah dibahas di buku mata pelajaran IPA kelas 4 SD (kalau enggak salah inget ya hehe). Jadi kali ini aku akan bahas mengenai apa itu skoliosis, dimana kelainan tulang ini sudah aku rasakan ketika aku berumur 15 tahun.

Apa itu Skoliosis?

skoliosis

source : https://mediskus.com/wp-content/uploads/2016/03/skoliosis-dengan-penyokong.jpg

Skoliosis merupakan suatu kondisi tulang belakang yang melengkung ke samping kanan, kiri, atau keduanya (memilikii 2 sudut) secara tidak normal. Kelainan tulang ini biasanya banyak ditemukan pada anak-anak sebelum mengalami masa pubertas yang umurnya berada diantara 10 – 15 tahun. Kelainan tulang belakang ini bisa menyerang anak laki-laki maupun perempuan, tetapi anak perempuan memiliki peluang mengalami perburukan gejala lebih besar dibandingkan dengan anak laki-laki. Akan  tetapi, kelainan skoliosis ini bisa juga menyerang manusia dewasa dengan penyebab yang tidak diketahui.

Karena lebih banyak skoliosis menyerang anak-anak, maka sangat diharapkan para orang tua untuk selalu memperhatikan postur tubuh anak-anak mereka. Apalagi, kelainan tulang belakang tidak hanya skoliosis saja. Kelainan tulang belakang lainnya adalah Kifosis dan Lordosis. Untuk mengetahui apakah seseorang terkena skoliosis atau tidak, terdapat cara yang sangat mudah. Tetapi untuk lebih jelasnya, lebih baik konsultasikan dengan dokter spesialis tulang untuk diperiksa menggunakan X-Ray atau Rontgen.

Gejala Skoliosis

Beberapa gejala skoliosis bisa dilihat langsung secara fisik seperti perubahan bentuk pada dada, pinggul, atau bahu. Untuk lebih jelasnya seperti dibawah ini :

  1. Salah satu pinggul terlihat lebih menonjol.
  2. Tubuh mungkin terlihat lebih condong pada satu sisi.
  3. Salah satu bahu penderita skoliosis terlihat lebih tinggi.
  4. Salah satu tulang belikat terlihat menonjol.
  5. Panjang kaki penderita tidak sama atau seimbang.

    skoliosis

    CT Scan Machine

Bahkan gejala skoliosis yang lain juga dapat dirasakan oleh para penderitannya. Gejala tersebut tidak semua penderita mengalaminya. Contohnya saja seperti aku, kalau lagi mau dapet, tulang belakang ini terutama di bagian lengkunngannya itu bakalan sakit banget. Selain ngerasain nyeri ini juga ngerasain nyeri pada bagian perut. Rasanya double banget sakitnya. Lalu beberapa gejala lain yang ditemui oleh penderita skoliosis adalah

  1. Beberapa merasakan rasa sakit yang dapat menjalar ke kaki, tangan, atau pinggul pada saat berjalan atau berdiri.
  2. Sebagian ada yang merasakan nyeri secara konstan.
  3. Beberapa penderita yang memiliki skoliosis tergolong berat merasakan susah bernafas.

Skoliosis juga dapat mempengaruhi sistem saraf yang terkena dampak skoliosis. Misalkan ujung saraf tertekan oleh salah satu tulang belakang yang melengkung, hal ini dapat menyebabkan kaku terasa kebas atau lemah. Selain itu juga dapat menyebabkan inkontinensia, yaitu penderita tidak mampu menahan buang air kecil maupun besaar. Bahkan beberapa penderita skoliosis pria dapat mengalami disfungsi ereksi. Maka dari itu, mengetahui skoliosis sejak dini merupakan hal yang sangat penting. Karena biasanya bila terjadi gejala skoliosis pada anak tidak disadari. Hal ini disebabkan gejala tersebut tidak menyebabkan rasa sakit. Jika terjadi salah satu dari gejala di atas, segera temui dokter spesialis tulang belakang untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Penyebab Skoliosis

Terdapat beberapa penyebab skoliosis yang dapat dikelompokkan yaitu Skoliosis Idiopatik, Skoliosis Degeneratif, Skoliosis Kongenital, dan Skoliosis Neuromuskular.

  1. Skoliosis Idiopatik, merupakan kasus skoliosis yang penyebab pastinya tidak diketahui, tidak dapat dicegah,
    skoliosis

    X-Ray Machine

    dann tidak dipengaruhi oleh faktir usia, olahraga, dan postur tubuh. Hal yang di duga berperan penting terjadinya kondisi skoliosis seperti ini adalah faktor genetika. Diketahui skoliosis idiopatik diderita sebanyak 80% dari jumlah penderita yang ada di dunia.

  2. Skoliosis Degeneratif, merupakan kasus skoliosis yang terjadi akibat kerusakan tulang belakang yang terjadi secara perlahan-lahan yang biasanya menimpa orang dewasa. Hal ini dikarenakan bertambahnya usia, terdapat beberapa bagian pada tulang belakang menjadi lemah dan menyempit. Atau dapat disebabkan oleh beberapa gangguan atau penyakit yang berhubungan dengan tulang belakang, seperti Osteoporosis, penyakit Parkinson, Motor Neurone Disease, Sklerosis Multipple, dan kerusakan tulang belakang yang terjadi akibat operasi.
  3. Skoliosis Kongenital, merupakan kasus skoliosis yang terjadi karena tulang belakang yang tumbuh tidak normal saat bayi masih berada dalam kandungan ibunya.
  4. Skoliosis Neuromuskular, merupakan kasus skoliosis yang terjadi karena gangguan saraf dan otot. Contohnya pada penyakit lumpuh otak atau distrofi otot.

Diagnosis Skoliosis

Kasus skoliosis dapat di diagnosis oleh dokter dengan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut contohnya pada bahu, tulang rusuk, tulang belakang, dan pinggul untuk melihat apakah terdapat bagian tubuh yang terlihat menonjol pada salah satu bagian. Setelah hal itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan yang berhubungan dengan saraf seperti kekuatan otot dan kenormalan refleks tubuh. Pemeriksaan menggunakan X-Ray juga diperlukan untuk mengetahu sudut lengkung tulang belakang atau sudut Cobb. Beberapa akan disarankan untuk melakukan tes lanjutan menggunakan CT Scan atau MRI Scan, bila dicurigai adanya pemicu lain skoliosis seperti adanya tumor.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis Part 1

Contohnya seperti pemeriksaan skoliosis pertama kali, aku diminta melepaskan bajy dan mulai membungkukkan badan. Lalu dokter menemukan salah satu tulang belikatku menonjol, begitu juga dengan bahuku yang tinggi sebelah. Kemudian aku diminta rebahan dan mengecek saraf kaki apakah masih berfungsi dengan normal atau tidak.

Perawatan Skoliosis

Beberapa perawatan skoliosis yang bisa dilakukan dan didasari dengan tingkay keparahan, lokasi lengkungan, usia, pola lengkungan, dan jenis kelamin penderita skoliosis.

  1. Observasi. Dengan pemeriksaan seperti X-Ray dan secara fisik dapat dilakukan tiap 6 bulan untuk memantau perkembangan skoliosisnya.
  2. Penyangga atau Brace. Brace diperlukan untuk menghentikan lengkungan tulang belakang menjadi lebih parah. Biasanya brace diberikan kepada anak-anak yang masih dalam usia pertumbuhan. Penggunaan brace tidak bertujuan untuk menyembuhkan skoliosis, tetapi mencegah bertambahnya derajat kelengkungan skoliosis.
  3. Obat. Obat digunakan untuk meredakan rasa nyeri pada penderitanya. Biasanya obat yanng diberikan seperti parasetamol atau AINS (antiinflamasi non-steroid) seperti ibuprofen. Kemungkinan dookter akan menyuntikkan obat steroid untuk meredakan nyeri pada kasus yang cukup parah walau hanya untuk jangka pendek.
  4. Operasi. Hal ini hanya dilakukan jika perawatan skoliosis yang telah disebutkan diatas tidak berhasil. Operasi bertujuan untuk memperkuat tulang belakang dengan menggunakan sekrup dan tangkai baja. Namun operasi tulang belakang ini memiliki beberapa risiko, seperti pasien dapat mengalami pergeseran tangkai baja, pembekuan darag, infeksi, serta kerusakan pada saraf tertentu.
  5. Fisioterapi. Fisioterapi juga dapat disarankan oleh dokter untuk memperkuat postur tubuh dan melenturkan tubuh penderita skoliosis. Hal ini dapat ditanyakan kepada dokter untuk informasi lebih jelasnya.

Komplikasi Skoliosis

Jika skoliosis tidak ditangani dengan baik, maka dapat menimbulkan komplikasi lain. Beberapa komplikasi skoliosis yang bisa saja terjadi adalah

  1. Masalah pada punggung. Masalah yang dimaksud adalah rasa nyeri pada punggung dalam jangka panjang dan atritis biasanya menimpa orang dewasa yang pada waktu berusia kecil sudah menderita skoliosis.
  2. Masalah pada jantung dan paru-paru. Hal ini bisa terjadi pada skoliosis yang tergolog parah atau yang memiliki sudut lebih dari 70 derajat akan mengalami kesulitan untuk bernapas. Atau jantung akan mengalami kesulitan untuk memompa darah ke seluruh tubuh karena jantung dan paru-paru tertekan oleh rongga dada. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan penderita terserang infeksi paru-paru atau pneumonia, hingga gagal jantung.
  3. Masalah pada saraf. Penderita dewasa yang memiliki kondisi tulang menekan saraf berpeluang untuk mengalami komplukasi seperti nyeri punggung, kaki mati rasa atau lemas, tidak dapat menahan untuk buang air kecil atau besar.

Efek Lain Skoliosis

Terdapat beberapa penderita skoliosis yang mengalami depresi. Hal ini dikarenakan penderita memiliki postur tubuh yang tidak sama dengan orang yang berada di sekitarnya. Begitu juga contohnya mendapatkan informasi-informasi dari internet yang membuat penderita shock, sehingga dukungan dari keluarga dan teman-temannya sangat diperlukan.

 

Source : http://www.alodokter.com/skoliosis