Mungkin sebagian besar masyarakat sudah tahu kan apa itu Skoliosis? Ada yang mengatakan Skoliosis itu penyakit ataupun kelainan. Tapi dokter orthopediku mengatakan, scoliosis itu merupakan kelainan tulang belakang. Oke, kenapa aku buat artikel tentang skoliosis? Ya, aku penderita skoliosis. Awal mengetahuinya waktu kecil ya biasa-biasa aja. Setelah di vonis oleh Dokter Orthopedi, syok berat, stress, mau ngamuk, dan segala macem deh. Sekarang aku mau cerita dulu ya…

Asal mula cerita, waktu kecil aku lupa SD atau SMP. Aku paling suka banget sama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Secara, cita-cita awalku adalah ingin menjadi seorang dokter umum. Hehehehe, tapi kayanya gak kesampaian, secara sekarang aku kuliah di Jurusan Ilmu Komputer. Saat itu, aku membaca bagian penyakit seperti Malaria, Demam Berdarah, Tipus, Influenza, dan sampailah ke topic bacaan yaitu 3 kelainan tulang. Dibuku itu, diperlihatkan gambar liuk tulang belakang. Lordosis, Kifosis, dan Skoliosis. Ya! Aku ingat betul bagaimana gambar dibuku itu. Pada saat membaca itu, aku mengucapkan kata”Ya Tuhan, kasian sekali jika ada orang penderita scoliosis, kok bias ya tulang belakangnya bentuk huruf S? “.

different of scoliosis, kyphosis, and lordosis

Perbedaan dari Skoliosis, Kifosis, dan Lordosis

Lalu, saat aku SMP kelas 3, aku lagi bercanda di kamar bersama kakakku. Kakakku berkata, “Kok pinggangmu mau ya lekuknya kaya gini?”. Yah aku dengan santai melihat tubuhku yang meliuknya tidak terlalu terlihat, dan menjawab : “Gak tahu. Apa ini ya namanya scoliosis? Gak tau ah. Tapi setauku kelainan tulang karena kebiasaan duduk yang salah deh.”. Kakakku melanjutkan menjawab, “Makanya, duduknya jangan miring gitu. Biar gak tambah bengkok”.

Baca Juga : Apa itu Skoliosis?

Aku sering sih ngerasa, kenapa aku duduk selalu miring ke kanan? Saat SMA pun aku juga seperti itu, aku selalu memilih bangku di yang paling dekat dengan tembok, biar kalau duduk bias sandaran. Saatnya sekarang aku mau naik tingkat nih, yaitu Kuliah. Wuiiiihhh, seneng banget aku keterima di Jurusan Ilmu Komputer. Seneng banget deh pokoknya. Tapi aku sering mengeluh, kenapa tulang belakangku terasa nyeri? Aku dan ibuku berniat untuk membawa ke dokter yang udah kenal lama dengan keluargaku. Disana, dokternya berkata, “Oohh ini tulangnya tidak bengkok ini, sepertinya ini kelainan otot. Tapi ada baiknya, dilakukan rongten tulang belakang”. Awalnya dikatakan begitu, aku masih santai-santai aja, mikir begini, kalau divonis scoliosis, juga bias sembuh kok. Gitu awal tanggapanku.

hidup dengan skoliosis - scoliosis spine

Perbedaan Tulang Belakang Normal dengan Skoliosis

Akhirnya, tibalah hari disaat aku rongten, di tempat dokter itu bekerja. Karena dia kenal dengan keluargaku, jadi dia mengurus tahap-tahapannya sampai aku ke ruang Radiologi. Di ruang Radiologi, aku musti lepas bajuku, dengan mengubah posisi beberapa kali agar dapat melihat bentuk tulangku. Setelah menunggu beberapa jam, keluarlah hasil rongten dan aku di pertemukan oleh seorang dokter lagi. Sebut saja Dokter pertama ini adalah Dokter A. Saat kejadian ini,aku di temani oleh kakakku.

Dokter A : (Sambil melihat hasil rongten) Ohhhh, ini Skoliosis. Harus cepat-cepat ini dioperasi.
Aku : (Kaget setengah mati. Operasi? Cepat? Aku hanya diam membisu).
Kakakku : Ini harus segera di operasi Dok? Biayanya sekitar berapa ya?
Dokter A : Ya, harus segera ini. Rp 20.000.000,- Nanti bakalan dipasangkan ven biar gak tambah bengkok. (Dokter A ini bicara tanpa melihat ekspresi wajahku yang ketakutan, ngerasa gak punya hati banget ni orang ngomong).

Aku dan kakakku terdiam. Mataku sudah berkaca-kaca, ingin sekali meneteskan air mata. Tapi aku mikir, malu banget nangis disitu. Aku harus kuat !!! Disaat putus asa ini dating ke aku, datanglah seorang Dokter, sebut aja Dokter B, yang bicara mikirin perasaan pasien.

Dokter B : Adik, silahkan duduk di ruangan saya. Mari kita membahas tentang hasil rongtennya.

Aku, Kakakku, dan Dokter B duduk di tempat duduk masing-masing dan mulai membahas tentang hasil rongtenku.

Dokter B : Adik, sebelumnya sudah tahu kalau adik penderita skoliosis?
Aku : Iya.
Dokter B : Loh? Kok tidak segera di bawa ke dokter? Semenjak kapan adik tahu itu?
Aku : Semenjak kelas 3 SMP (Saat kejadian ini, aku mau OSPEK), tapi saya pikir skoliosis bisa sembuh dengan sendirinya. Setahu saya, tulang bengkok karena kebiasaan Dok.
Dokter B : Oh, tulang bengkok itu tidak semuanya karena duduk yang salah, bisa saja karena kecelakaan, ataupun keturunan. Kalau boleh tahu, adik kapan mengalami Menstruasi? Sesudah atau sebelum menstruasi?
Aku : Sesudah mestruasi Dok.
Dokter B : Pernah mengalami kecelakaan sampai rongten tulang?
Aku : Tidak Dok.

Lalu aku disuruh melepas baju, dengan melakukan beberapa test seperti membungkuk, lalu mengecek saraf kaki, dan lain sebagainya ditemani Dokter B, 2 Perawatnya, dan Kakakku.

Dokter B : Begini ya Adik. Setelah saya menanyakan data-data tadi, Adik mengalami skoliosis yang belum diketahui penyebabnya. Kemungkinan adik mengalami ini karena keturunan. Apakah ada keluarga dari Bapak atau Ibuknya yang skoliosis?
Aku : Waduh, saya gak tahu Dok.
Dokter B : Adik, berdasarkan hasil rongten, saya vonis adik penderita Skoliosis. Tapi ini sudah merupakan keajaiban, selama 3 tahun adik tidak membawa ke dokter, tetapi tidak menyerang saraf kaki. Ciri-ciri menyerang saraf kaki adalah jika tadi saat saya mengangkat kaki adik, adik merasa sakit, itu artinya saraf kaki adik sudah terganggu. Tapi tadi adik tidak merasa sakit, jadi adik harus sangat bersyukur. Tapi efek jika syaraf kaki diserang, maka akan terjadi kelumpuhan.
Aku : (syok banget aku. Apa? Lumpuh? Mau nangis akuuu T.T)
Dokter B : Adik ga usah takut ya, adik harus melakukan rongten lagi agar tahu derajat kemiringannya. Berdasarkan hasil rongten sementara, kemungkinan skoliosis adik membentuk 2 derajat kemiringan. Jangan sekarang di rongten, kasian tubuhnya. Adik baca-baca diinternet ya, tentang skoliosis biar lebih siap membaca nanti. Jika derajat kemiringan di bawah 40 derajat, maka cukup di lakukan terapi. Jika di atas 40 derajat, masih dipertimbangkan lagi apakah dilakukan terapi saja, atau operasi dan terapi. Tetapi, operasi bukan menyembuhkan skoliosis, tetapi hanya menghambat menambah bengkoknya tulang. Tapi ada 2 bahaya dari operasi. Pertama, jika proses pemasangan ven berhasil, sangat bersyukur sekali, tetapi jika pertumbuhan tulang tersebut makin bengkok, kemungkinan ven dapat patah dan bias menyebabkan kelumpuhan sesuai syaraf yang kena ven tersebut. Kedua, jika operasi gagal dalam pemasangan ven, maka akibatnya adalah kelumpuhan total.
Aku : (Oh Tuhan, kenapa ngasi cobaan begini disaat umurku masih 18 Tahun? Nangis akhirnya).
Dokter B : Kesimpulannya, adik gak usah takut dulu. Minggu depan rongten dulu, biar bias dihitung derajat kemiringannya. Operasi itu jalan paling terakhir dan harus dipikirkan matang-matang. Adik pikirin aja ospeknya dulu sekarang ya.

Akhirnya aku pulang kerumah, selama perjalanan aku menangis. Setiap malamnya aku menangis. Selalu menangis, sampai OSPEK pun aku menangis. Apa karena tekanan pikiran, aku malah ngerasa tulangku semakin nyeri dan sakitnya kelewatan. Aku membaca artikel diinternet. Ceritanya serem-serem banget. Ada yang bilang penderita skoliosis itu bakalan kena sakit batuk yang gak bias hilang karena paru-parunya ditekan oleh tulang rusuk, ada yang meninggal karena jantungnya tertusuk tulang rusuk karena sakit besarnya derajat kemiringan, dan lain sebagainya. Itu cukup membuat aku stres. Membuat aku pengen mati (lagi putus asa), pengen gak kuliah. Aku mikir kasian orang tua.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 2)

Setelah 2 minggu dari kejadian itu, aku di bawa ke dokter orthopedi lain, dulu ibuku pernah barengan kuliah Akte IV sama itu dokter. Jadinya kenal baik. Sebut saja Dokter C. Dokter C ini teman ibuku, karena sama-sama jadi Dosen di Universitas yang sama. Yah tapi Dokter C sudah jadi Pembantu Dekan (wowww).

Dokter C : Coba saya lihat rongtennya dulu.
Aku : (Sudah takut, tangan keringet dingin)
Dokter C : Wah, kurang ni rongtennya. Mustinya sampai atas. Jadi Om ga bias bilang berapa derajatnya.
Ibu : Ini nyoman (Panggilanku di keluarga) sudah stress, setiap malam nangis terus mikirin ini.
Dokter C : Nyoman ga boleh gitu. Kenapa juga nangis segala?
Aku : Iya, say abaca di internet, katanya mati karena skoliosis itu menyeramkan.
Dokter C : Internet itu informasinya kamu harus pilih-pilih. Percaya sama Om. Bisa sembuh itu, kamu harus percaya sama Om. Om juga skoliosis nih, nih lihat.
Aku : (aku lihat, bingung. Ini Om skoliosis apa gak ya? Dia pake jas dokter, mana bias lihat -_-).
Dokter C : Nyoman harus percaya sama Om. Om ini temen ibu kamu. Gak mungkin Om bohong, banyak cara biar sembuh dari skoliosis. Ada senamnya, bisa juga dengan berenang. Sudah, percaya sama Om sekarang. Banyak doa, terus pikirin dulu OSPEKnya. Sakit tulang jangan diikutin terus. Semakin kamu kasi hati, semakin sakit. Harus kamu lawan, gak boleh manja. Udah kuliah lo. Nanti sehabis ospek, baru kesini lagi sama ibunya.

Aku Cuma manggukkan kepala dan berkata iya. Dengar omongan seperti itu, setidaknya mengurangi ketakutanku. Aku bisa melewati ospek karena Dokter C. Tapi, aku cukup takut dan trauma, sehingga aku sampai saat ini tidak pernah mengecek berapa derajat kemiringanku. Lihat rongtenku yang sebelumnya aku tidak berani. Pikiran skoliosis ini hamper dating seminggu sekali selama aku kuliah di Semester I. berikutnya ke Semester II.

Segitu dulu ya ceritanya.. ceritanya masih berlanjut, ini aku baru lihat, ternyata ceritaku belum selesai sudah ngetik 1400 kata. Nanti aku sambung lagi ya. 🙂 Yang mau komentar, silahkan.. yang mau repost, inget kasi sumbernya link blogku 😀