Akhirnya aku menyempatkan diri untuk membuat lanjutan dari Hidup dengan Skoliosis dan memang baru kepingin lagi untuk mengingat masa-masa kelam dan benar-benar trauma tentang skoliosis. Apalagi tanggal 29 Juni 2013 merupakan International Scoliosis Awareness Day. Wah aku searching di twitter tentang skoliosis, banyak banget tweet yang menyangkut skoliosis. Dari situlah aku banyak kenal dengan sesama penderita skoliosis. Jadi banyak kenal, banyak juga dapat pengetahuan tentang pengalaman mereka mengenai skoliosis.

Sebenarnya hal ini juga sih yang menggerakkan kemampuanku untuk kembali ke dokter lagi. Jujur, ingin mengetahui berapa derajat kemiringanku. Tapi di sisi lain, ngeri juga kalau tahu. Takut masa ketakutan dan depresi datang menghampiri lagi. Jadi aku memutuskan untuk mengumpulkan keberanian lagi biar tidak “syok” lagi. Hehehehe, kebetulan juga bulan ini aku lagi KKN (Kuliah Kerja Nyata). Jadi konsen KKN dulu deh. Lanjut ya sama cerita skoliosisnya :D. Kisahku ini berlanjut dari Hidup Dengan Skoliosis (Part 1). Baca itu dulu baru nyambung nanti baca cerita selanjutnya disini. Hehehe..

Kisahnya sekarang aku semester II. Lagi jamannya banyak matakuliah yang praktikum. Otomatis kan bakalan banyak waktu didepan laptop. Otomatis lah aku cepat merasa lelah. Yang pasti harus senderan di meja ataupun di tembok. Belom lagi susahnya minta ampun ngertiin materi dan mengconvertnya ke program. Hal itu terus berlanjut, terutama rasa nyeri pada tulang. Kadang untuk dapat menghilangkan rasa nyeri itu, aku biasanya menggunakan koyo. Saat itu, aku memang memiliki pacar, sebut saja namanya Arsa (bukan nama asli). Saat itu kalau tidak salah aku dan Arsa sedang malam minggu. Nonton film di Galeri 21. Lupa nama judul filmnya apa. Saat menonton itu, tulangku mendadak terasa nyeri. Tahukah apa yang direspon oleh Arsa? Arsa mengatakan “Kamu jangan ngeluh tulangmu sakit terus-terusan ! Apa men yang bisa tak lakuin? Gak ada kan?”. Arsa langsung melanjutkan menonton film yang sedang berlangsung itu.

jenis skoliosis

Jenis Skoliosis

Di benakku, hanya ada perasaan mengapa pacarku mengatakan hal seperti ini? Kenapa dia tidak memikirkan perasaanku sama sekali? Ok, aku emang penderita skoliosis. Keluhanku memang pasti nyeri tulang. Memang ini kekuranganku. Aku memang orang yang cacat. Semenjak itu, aku memutuskan jika merasakan nyeri tulang, aku tak akan mengadukannya kepada siapapun, mau Arsa ataupun orangtua. Biarkan aku sendiri yang mengatasi sakitku sendiri. Setidaknya saat itu aku bersyukur kepada Tuhan, Tuhan telah menunjukkan bagaimanakah sifat Arsa yang sesungguhnya. Mungkin memang ini jalan Tuhan, saat itu ada kasus. Temanku melihat Arsa di Facebook, memberikan komentar kepada teman wanitanya. Dengan bahasa yang merayu dan sangat nakal (Maaf, bukan menjelekkan orang lain. Tapi inilah kenyataannya). Maka setelah hal itu terjadi, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Aku gak mau tahu lagi lah. Hehehhe

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 1)

Setelah itu, memang Tuhan yang menemukanku dengannya , Wira, pacarku saat itu sampai sekarang (syukurlah masih bertahan, semoga sampai seterusnya). Sebelum dia menjadi pacarku, aku memang menceritakan kepadanya, bahwa aku penderita skoliosis. Bahkan dia bertanya kepadaku, apa itu Skoliosis. Yah, aku ceritakan sedikit kepadanya, tetapi selanjutnya aku menyuruhnya untuk mencari sendiri di internet. Tahukah mengapa alasannya? Ya, aku masih sangat labil saat itu. Jika mengingat kejadian di vonis 7 bulan yang lalu, aku masih sering menangis. Menangis, dan membayangkan bagaimana rasa sakit yang aku derita saat aku mati nanti. Tapi sekarang aku tidak berpikir seperti itu, manusia pasti akan mati suatu saat nanti, dengan cara yang berbeda pula, dan itu sudah jalan Tuhan. Wira pun memang menganjurkanku untuk operasi. Aku berkata kepadanya bahwa aku tidak mau, aku takut. Aku katakan kepadanya, bahaya apa yang akan aku alami jika operasi itu gagal, yaitu mengalami kelumpuhan total. Wira pun juga syok.

Semenjak itulah, wira gak pernah memaksaku lagi untuk melakukan operasi. Dokter saja gak berani secara langsung memutuskan hal itu. Tetapi dia selalu memberikan saran untuk olahraga renang. Karena memang dokter menyarankan hal seperti itu, untuk menghambat pertumbuhan bengkoknya tulangku. Begitupun juga keluargaku, menyarankan hal yang sama. Setiap aku mengeluh sakit tulang, dia selalu menyentuh bagian tulang skoliosisku. Menggosoknya dengan tangan, dengan harapan agar rasa nyeri ini berkurang. Tapi tetap saja tulang ini nyeri. Jadi Wira biasanya menyediakan koyo, agar bisa aku gunakan untuk rasa nyeri yang benar-benar tidak tertahankan. Bahkan aku pernah sampai menangis menahan sakit tulang ini.

Hal itu berlangsung sampai tanggal 29 Juni 2013 tiba. Iseng aja ngelihat status salah satu teman penderita skoliosis juga (kenalan dari twitter) itu nge-retweet status yang mengatakan “International Scoliosis Awareness Day”. Aku cari-cari, ternyata aku mendapatkan twitternya, @ScoliosisUK. Dari situ aku tahu orang diluar Indonesia yang sesama penderita skoliosis. Terus juga bertemu dengan teman-teman penderita skoliosis di Indonesia. Jadi saling berbagi informasi, mengenai kurva tulang mereka apakah berbentuk S atau C, berapa derajat kemiringanna, apakah sudah pernah dioperasi atau belum, dan apakah menggunakan brace atau tidak.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 3)

Mereka juga menanyakan, berapa derajat kemiringanku. Tentu saja aku menjawabnya aku tidak tahu, karena memang aku masih ketakutan untuk mengetahuinya. Dan mereka pun tetap menyarankan kepadaku agar secepatnya mengetahui berapa derajat kemiringanku. Siapa tahu bisa menggunakan brace. Brace adalah baju khusus untuk penderita skoliosis agar dapat menahan tulang belakang untuk tidak bengkok lagi. Sifatnya bukan membuatnya normal, tetapi menahannya agar tidak bengkok lagi. Aku tanya kepada orang-orang yang baru saja aku kenal, sesama penderita skoliosis, harga brace tersebut beraneka ragam. Ada yang mengatakan Rp 900.000,- , ada juga yang mengatakan Rp 2.700.000. Tetapi tadi malam ada juga harga brace Rp 15.000.000,-. Gak tahu juga aku bedanya apaan.

Untuk operasi skoliosisnya, seingetku 3 tahun yang lalu aku ditawarkan sama dokter yang gak memikirkan perasaan pasiennya, langsung main sambret aja, itu Rp 20.000.000. Sedangkan salah satu penderita skoliosis yang bercerita kepadaku, dia melakukan proses operasi membutuhkan biaya Rp 185.000.000. Waduh biayanya beraneka ragam yah, gak tahu juga bedanya apaan. Jadi yang mau operasi skoliosis, mungkin harganya berbeda-beda. Hari ini aku membeli kebutuhan untuk sebulan kedepan, seperti kebutuhan sabut, pasta gigi, dan yang lainnya karena akan KKN. Jadi tadi aku sama Wira belanja kebutuhan bareng gitu.

Sempat saja Wira menanyakan hal ini kepadaku “Beneran kamu gak ada niat untuk ke dokter lagi?”. Aku sempet kaget sih ya, tumben amat ni nanyain tulangku lagi. Aku menjawabnya dengan pelan, “Sebenarnya ada. Cuma aku masih takut Wir..”. Wira lanjut menanyakan, “Kamu gak mau nyobak penyembuhan alternatif?”. Aku jawab, “Masih pikir-pikir Wir. Mungkin selama KKN ini sekalian aku mengumpulkan mental, biar gak kenapa-napa tahu berapa derajat. hehehehe..”. Wira hanya tersenyum aja, memberitahu bahwa dia juga mengerti bahwa aku belum siap untuk mengetahuinya.

Jujur, aku sadar aku salah melakukan hal ini. Menunda selama 3 tahun untuk mengetahui berapa derajat kemiringanku. Sangat jujur, aku ingin tahu. Sangat ingin tahu. Hanya saja aku masih mengingat dokter yang mengatakan hal harus langsung hari itu juga dioperasi dan meminta uang Rp 20.000.000. Semoga Tuhan juga membantuku untuk kuat dan secepatnya mengetahui berapa derajat kemiringanku. Makasi banget kepada keluarga, Wira, teman-teman yang ada di sekelilingku yang mengerti kekuranganku, dan support dari kawan-kawan skoliosis yang baru saja kenal di jejaring sosial. Hehehehe.. Kita memang harus semangat menjalani hidup. Buatlah hidupmu dengan skoliosis itu menyenangkan. Hehehe.. Aku berharap yang baca ini, dan jika kamu memang penderita skoliosis, yuk bagi ceritanya disini.

Segitu dulu ya yang bisa aku kasi infonya. Semoga bisa bermanfaat ya bagi kita semua. Sekedar mengingatkan, setelah membaca artikel ini, minta tolong ya.. Di share ke FB atau twitter. Terus diisi ya voting yang ada di pojok kanan atas dari halaman ini. Diisi juga kolom reaksi setelah membaca artikel ini, apakah bagus, penting, bermanfaat, atau yang lainnya. Bagi yang mau copy kata-kataku, jangan sampai lupa menyertai link dari halaman ini. Kalau ada yang bingung, silahkan tuliskan pertanyaan di form komentar. Makasi πŸ™‚