Lagi-lagi aku ingin melanjutkan menulis tentang temanku yang satu ini, skoliosis. Hehehhee. Sekarang aku lagi jamannya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bersyukur banget dapet rumah tinggal di lokasi KKN. Hanya saja kebagian kamar yang sedikit buat kita sesak nafas, karena kurangnya ventilasi. Nah ini dia nih yang buat aku untuk tidur di ruang keluarga dirumah itu. Tidur disana memang biasa aja. Tidur beramai-ramai bersama teman-teman, setidaknya menghilangkan rasa takutku dalam hal mistis. Hehehehe. Tetapi pada akhirnya aku harus berpindah tempat lagi, karena disaat hujan lebat ruang keluarganya bocor. Yah mau gak mau harus memikirkan tempat tidur untuk selanjutnya.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 2)

Karena tempat tidur yang direkomendasikan tersebut, aku merasa gak nyaman, yah aku memilih untuk tidur di teras bersama kawan-kawan lainnya. Memang sih hari pertamanya aku merasakan tidak begitu dingin, karena aku menggunakan bed cover. Tapi lama kelamaan berdampak juga nih sama skoliosisku. Karena lokasi KKNku memang daerah yang dingin, jarang banget ada mataharinya, hujan melulu, otomatis lantainya dingin, dan otomatis juga tulang belakangku ini sakit.

Biasanya aku juga enggak mungkin mengeluh kepada siapapun, mengeluh ke wira, ke ibu melalui SMS, ataupun ke teman dekat. Karena aku memang telah terbiasa merasakan sakit seperti ini. Juga aku gak butuh dikasihani karena tulangku ini. Hehehehee… Jadi aku menanganinya dengan menggunakan koyo lagi. Tetapi, hal yang enggak diinginkan menimpaku, disaat aku dari Denpasar menuju lokasi KKN, tepat mau masuk jalan kerumah, eeehhh aku jatuh sama wira gara-gara kecepatan motor yang agak tinggi dan kebetulan jalan itu ada pasir dan kerikilnya. Yang buat BT lagi, jatuhnya ke arah kanan, dan tangan kananku dengan refleksnya menahan badanku di jalan itu. Hasilnya adalah tangan kananku lecetnya agak dalam. Awalnya sih gak ngerasa sakit dimana-mana. 2 jam kemudian, barulah terasa ternyata tangan kananku bengkak dan sakit, kaki kanan dan kiriku biru. Yah kalau dibilang setengah badanku yang sebelah kananku sakit-sakit semua.

Otomatis lagi tulang belakangku sakit juga setelah kecelakaan itu. Yah mau gimana lagi, namanya juga kecelakaan gak ada yang menginginkan. Jadinya aku setiap pagi, siang, dan malam selalu mengobati kaki dan tanganku yang bengkak, sekalian juga dengan tulang belakangku. Tak pijet-pijet sendiri, atau wira yang mijetin tangan dan kakinya. Tepatnya 4 hari yang lalu deh aku kecelakaan, selama itu juga tangan kaki dan tulang belakangku sakit juga.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 4)

Hidup dengan skoliosis itu memang susah, tapi ada baiknya hidup dengan skoliosis ini dibuat bahagia dengan cara menikmati hidup ini dengan berbuat baik, membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan, jangan pedulikan orang yang mengatakan kita lemah. Jika ada orang yang mengatakan hal seperti itu, jadikan motivasi aja. Seharusnya kita bangga, kita bisa melakukan sesuatu dengan skoliosis. Belum tentu orang normal bisa bertahan seperti kita. Yang paling penting, kita tidak boleh merasa diri kita lemah πŸ™‚