Halo, Skolioser! Akhirnya aku kembali menulis tentang lanjutan Hidup dengan Skoliosis. Hehehe.. Aku telah berpikir, sepertinya aku harus siap-siap mental untuk mengetahui berapa derajat skoliosisku. Entah berani enggak berani, harus siap menerima apapun yang akan terjadi. Karena aku sudah menderita skoliosis 6 tahun yang lalu, dan resmi divonis skoliosis oleh dokter 3 tahun lalu, hanya saja belum tahu derajatnya karena trauma bertemu seorang dokter yang langsung minta dioperasi dan segera menyiapkan uang sebesar 20an juta lebih, seperti yang aku tulis di Hidup Dengan Skoliosis…(Part I).

Bermula dari aku mengantar ibuku ke dokter spesialis tulang. Kaki ibuku ketiban pot bunga yang berat sehingga bengkak, biasa ibuku sudah tua, jadi enggak sengaja geser pot bunga, eh jatuh kena kakinya. Tapi hampir seminggu tetap bengkak, sehingga berniat untuk melakukan rongten bagian kaki. Datanglah ke suatu rumah sakit, dan ibuku bertemu dengan dokter tersebut. Sebut aja dengan inisial BK. Orangnya ramah banget, ngasi tahu informasi pelan-pelan, dan memang dia dokter yang menangani operasi tangan kakakku dulu, jadi sudah lumayan kenal.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 3)

Akhirnya setelah kaki ibuku di rongten, dan hasilnya, weleh-weleh… Memang patah dibagian jari tengan di bagian kaki kanan. Untung saja posisinya masih bagus, alias tulang yang patah tidak bergeser, sehingga tidak dibutuhkan operasi (syukurlah). Lalu akhirnya ada kesempatan untuk mengkonsultasikan skoliosisku, maka timbulah percapakan dibawah ini :

dr. BK   :  “apa yang membuat kamu ingin memeriksakan tulangmu? apa ada keluhan seperti apa? atau gimana?”
Aku         :  “begini, saya sudah divonis 3 tahun lalu kalau saya skoliosis idiopatik. hanya saja saat itu rongtennya belum lengkap jadi enggak bisa dihitung derajatnya. karena juga ada seorang dokter yang langsung minta dioperasi segera dan membutuhkan uang 28 juta kalo enggak salah, saya jadi trauma dan kaget. karena belum dikasi penjelasan yang lebih jelas, sudah diminta operasi”
dr. BK    :  “lah kok aneh? siapa nama dokternya? gak ada baru skoliosis langsung main operasi, kan harus dimengerti dulu kondisi tulangnya?”
aku         :  “saya gak tahu nama dokternya, tapi di bukan spesialis orthopedi, tapi bedah. saya jadi trauma balik ke sana. Tapi ada dokter di RS PH yang ngasi tahu saya kalau enggak semua skoliosis harus dioperasi, jadi enggak usah stres. Hanya saja saya trauma, sampai sekarang belum tau derajat”.
dr. BK   :  “Sekarang kamu harus tau ya berapa derajat, soalnya ada kemungkinan skoliosis itu semakin jelek alias nambah derajatnya. Jadi 3 tahun yang lalu baru skoliosis ya?”
aku     :  “enggak dok, dari 6 tahun yang lalu saya sudah skoliosis”
dr. BK   :  “Waduh, kok enggak dari 6 tahun lalu diperiksa?”
Aku     :  “Iya saya sudah bilang sama ortu, katanya saya enggak skoliosis. Mungkin mereka belum paham tentang skoliosis”
dr. BK   :  “Saya bukan ahli bagian tulang belakang, tapi saya tau secara umum ini skoliosis atau tidak. Ayok berdiri dulu, biar tau letak skoliosisnya dimana”

Aku nurut aja. Akhirnya aku berdiri, bajuku dinaikkan sedikit, dan dia melihat bagian tuang belakang bagian bawah memang bengkok ke kanan. Lalu dia menyuruhku bungkung. Dan dokter itu mengatakan aku skoliosis lumbal. Dengan alasan dirumah sakit itu, enggak bisa rongten untuk skoliosis, jadinya aku di rekomendasikan ke temannya yang Spesialis Orthopedi juga, di RS lain, sebut saja RS BM. Dan dokter BK membuatkan surat untuk rongten dan aku harus membawanya ke RS BM untuk menemu dr. L.

Dokter BK juga memberiku saran untuk renang setiap hari, wajib karena satu-satunya olahraga yang mudah dan harus dilakukan oleh penderita skoliosis adalah renang. Aku jarang renang, jadinya dimarahin deh. Huhuhu.. Tapi ya marahinnya enggak galak, cuma menekankan bahwa aku wajib mengetahui derajatku, agar solusi yang diberikan nantinya tepat.

Sekarang, aku degdegan. Jujur, takut untuk mengetahui derajat itu masih ada, walau sedikit. Setidaknya perasaanku tidak setakut saat berumur 18 tahun. Sekarang umurku hampir 22 tahun (tapi masih 21 tahun kok, hehehe masih muda dan cantik :D). Jadi aku harus lebih kuat dari yang dulu. yah sekitar 16 jam lagi aku akan bertemu dengan dr. L, dan semoga juga Tuhan memberikanu kekuatan untuk siap mengetahui berapa derajat skoliosisku, memberikan yang terbaik buat aku juga. Pokoknya jangan aja aku sampai nangis disana, malu 🙁

Semoga hari ini dilancarkan urusannya untuk rongten dan pemeriksaan skoliosisku. Terima kasih kepada keluarga dan pacar yang menyemangatiku untuk kuat menerima informasi derajat nanti, temen-temenku, dan terutama teman-teman sesama skoliosis yang selama ini yang aku ajak bertukar informasi mengenai skoliosis dan menyemangati. Semoga kita selalu kuat dan bahagia bersama skoliosis kita. Salam skolioser !!! ^^

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 5)