Halo Bloggers ! Mari ku lanjutkan cerita Hidup dengan Skoliosis yah. Akhirnya tiba juga saatnya aku mengetahui berapa derajat skoliosisku. Dimana saat aku harus melawan rasa traumaku yang sudah 3 tahun berlalu. 5 jam sebelum aku akan berada di Rumah Sakit Bali Med, ya terus mikirin derajatku. Kira-kira berapa derajatku ya? Parah atau enggak ya? Kalau parah kan operasi dong?? Akkkhhh pikiranku jadinya enggak terkontrol karena ingat dengan traumaku 3 tahun lalu.

Sesampainya disana, aku sudah degdegan. Mendadak sakit perut lah, pengen pipis lah, pokoknya macam-macam keluar semua. Apalagi melihat antrian yang akan masuk ke bagian bedah orthopedi masih banyak. Walah. Kalau lama dipanggil, juga salah. Kalau langsung dipanggil, rasanya jantungku mau copot. Pokoknya semuanya serba salah.

Akhirnya namaku dipanggil juga. Terus aku menyerahkan surat pengantar dari dr. BK kemaren. Lalu dr. L mengatakan “Ohh ini yg skoliosis itu ya? Okeh berdiri dulu ya. Gak ada kok baru skoliosis main operasi gitu”. Lalu aku berdiri dan diperiksa lah sama dr. L. Lalu dia berkata lagi, “Kalau dilihat dari sekilas, ini skoliosisnya tergolong ringan. Tapi kita wajib mengetahui berapa derajatnya. Jadi sekarang di rongten ya? Mau ya?”. Aku langsung menganggukan kepala saja, karena memang mengetahui derajat itu adalah hal yang wajib bagi penderita skoliosis.

Lagi dan lagi aku mengantre di depan ruang radiologi. Akhirnya aku cerita kesana kemari dengan ibuku, sekaligus menenangkan hati. Lalu namaku dipanggil. Disuruh membuka baju, celana, dan bra di ruang ganti baju, dan menggunakan baju hijau. Jadi dengan menggunakan baju hijau itu, aku hanya mengenakan celana dalam. Aku sebenarnya agak malu, kan disana ada petugas cowok di ruang radiologi. Tapi tak pikir-pikir lagi, bodo amat dah. Toh ini memang harus dilakukan. Tapi syukurnya petugasnya cowok cewek, jadi aman.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 4)

Lalu petugas radiologi mengukur kesana kemari agar bisa melakukan rongten di semua bagian tulang belakangku. Tetapi akhirnya mereka bingung sampai geser alat rongten karena alat itu tidak cukup untuk melakukan rongten untuk tulangku. Aku awalnya bingung, kok bisa gak muat ya? Akhirnya petugas itu menelpon dokter L, bahwa ini enggak cukup karena aku nya tinggi banget. Weleh.. Akhirnya mereka rongten bagian lumbal dulu. Terus dikirim dulu gambarnya, lalu bagian thorical. Karena dibagian thorical tidak bengkok, maka akhirnya rongten ku di fokuskan di bagian lumbal, alias enggak sampai di leher. Jelasnya lihat saja di foto rongtenku nanti.

Lalu aku di rongten dengan 4 gaya. Hehehe.. Di ruang radiologi, aku malah ketawa-ketawa sama petugas radiologi nya, mereka ramah dan memang care banget sama pasiennya. Pertama menghadap ke depan. Lalu kedua angkat tangan kanan lalu mereng ke kiri, ketiga angkat tangan kiri lalu mereng ke kanan, dan keempat menghadap ke kanan jadinya rongten dari samping.

soniya scoliosis rontgen

Rontgen Skoliosis Soniya

Akhirnya kembali ke ruangan dokter. Lalu di taruhlah rongten ku di lampu. Lalu dia mengukur berapa derajat kemiringanku. Dan hasil nya adalah 10 derajat. Antara seneng atau enggak tuh. Kenapa seneng? Karena derajatku di bawah 40 derajat, dengan kata lain aku enggak di operasi. Kenapa sedih? Karena kalau 10 derajat, apakah perlu menggunakan brace?

Emang sih dari awal sebelum aku rongten, dr. L mengatakan kalau derajat lebih dari 40, maka memang harus dioperasi, karena jika derajatnya semakin bertambah akan menimbulkan penyakit yang kompleks. Maka dari itu, sebelum di rongten aku berdoa terus, agar derajatku kecil banget. Sehingga aku bersyukur sekali skoliosisku 10 derajat.

dr. L : “Ini derajatnya 10 ya dibagian bawah. Sangat kecil sekali derajatnya, jadi skoliosisnya ringan. Jadi gak perlu takut. Yang penting harus rajin olahraga yaitu renang”.
ibuku : “Dok, penyebab skoliosis ini apa ya?”
dr. L : “Sampai sekarang belum ditemukan penyebab pastinya. Ada yang mengatakan genentik, salah posisi duduk, atau lainnya. Adik masih kuliah?”
aku : “Iya”.
dr. L : “Dimana kuliahnya?”
aku : “Di Ilmu Komputer Unud”
dr. L : “Oh di Unud? Kan sering duduk ya? Kalau begitu saya saranin pakai brace, biar kalau duduk dengan posisi yang benar. Ada banyak kok jenis brace”.

Lalu dr.L menyuruh perawatnya untuk mengambilkan brosur tentang harga dan jenis brace. dr.L mengatakan banyak kok yang menjual brace, jadi gampang untuk mendapatkan brace. Waktu aku lihat, buset dah harganya. Minimal 2 juta. Sudah sih dikatakan sama dokter, kalau dia hanya menampilkan contoh brace. Ada brace khusus bagian lumbal dan ada juga brace yang full sampai di bagian dada. Lalu dr.L menampilkan melalui tabletnya, orang-orang yang skoliosis derajatnya 56 dan 60. Lalu foto saat operasi skoliosis dan saat pemasangan ven pada tulang belakang. Ibuku melihatnya sudah ngeri, kalau aku ngelihatnya enggak begitu kaget, karena sudah nonton operasi skoliosis di youtube yang dilakukan oleh dokter di Korea Selatan.

dr. L masih heran dengan dokter yang pernah aku ceritakan, yang langsung memaksaku untuk menyiapkan uang sebesar 20an juta untuk operasi skoliosis. Padahal dia belum ngitung derajatnya berapa. Sampai aku ditanyakan namanya, hanya saja aku emang gak tahu namanya siapa. hadehh… Yah yang penting sekarang aku enggak berurusan sama dokter yang menyuruhku operasi skoliosis dadakan. Yang penting sekarang aku sudah tahu berapa derajat skoliosisku.

dr. L juga bilang, dengan derajatku yang ringan ini, maka tulangku bisa lurus lagi dengan cara olahraga renang sesering mungkin. Jujur, aku seneng sekali. Aku pengen banget normal, soalnya kerjaanku setiap hari kan memang di laptop mulu. Jadi pastilah sering banget duduk. Andai memang beneran bisa normal lagi, asik banget dah πŸ˜€ Makanya aku akan berusaha semaksimal mungkin biar bisa renang, dan melakukan olahraga renang sesering mungkin.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 1)

Pengen banget bilang terima kasih kepada siapa saja yang telah mendoakan aku, agar hasil rongten tadi dengan derajat yang sangat kecil dan hasilnya yang baik. Makasi banget ^^ Setidaknya sekarang aku bisa mengalahkan rasa trauma ku. Enggak nyangka, pertumbuhan skoliosisku selama 6 tahun memang lambat sekali. Pokoknya aku senang dan sekarang harus rajin renang ^^

Lebih bersyukurnya lagi, bertemu dengan dokter-dokter yang baik. Terima kasih kepada dokter C yang udah buat saya berhenti depresi selama 3 tahun. Kepada dr. BK yang merekomendasikan bertemu dengan dr. L. Kepada dr. L yang udah meriksa dan memberitahu derajat skoliosis. Dan kepada petugas radiologi dan perawat disana, yang baik dan ramah, dan tepatnya juga care banget di ruang radiologi, diajak sharing dan mengerti rasa sakitnya saat dimnta rongten miring sana sini :*

Dapat informasi juga dari dr. L, biaya operasi skoliosis memang tidak murah, memerlukan biaya sekitar 200jutaan. Uju buseett, kaget aku. Makanya aku dikasi tahu, bila tidak ingin dioperasi, maka rajinlah berolahraga renang. Pas ditanyain, adik bisa renangkan? Ya aku jawab gak bisa renang karena emang gak bisa renang. Dokternya malah ketawa, wkwkwkwkkw. Yah kan mau gak mau harus bisa renang ya πŸ™‚

Yup segitu aja dulu ceritaku. Memang melawan rasa trauma memang susah sekali. Tetapi kita harus bisa melawan rasa trauma kita demi kesehatan kita sendiri. Banyak berdoa dan sharing dengan sesama skoliosis. Para skolioser pasti akan mendukung dan memberikan semangat. Salam skolioser !!! :* ^^

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 6)