Hello para Skolioser ! Bagaimana nih kabar kalian? Sudah lama aku enggak nulis tentang Hidup dengan Skoliosis lagi. Kali ini aku akan cerita, aku lupa kapan, yang pasti kejadiannya tahun lalu. Aku terus-terusan mengeluh bagian tulang belakangku sakit sekali. Karena aku pakai BPJS, jadi aku ke dokter keluarga dulu baru di rujuk ke Rumah Sakit. Waktu itu aku ditulisnya Low Back Pain, disingkatnya LBP. Waktu itu sebenernya aku dirujuk ke Dokter Orthopedi, tapi enggak tahu gimana ceritanya malah dibawa ke Dokter Syaraf.

Lalu aku jelasin kalau aku penderita skoliosis. Dokternya juga minta di kunjungan berikutnya, aku disuruh membawa hasil rontgen sebelumnya waktu di RS Bali Med. Kunjungan berikutnya aku tunjukin, dan ditanya memang aku masih mengalami nyeri. Jadinya aku di rontgen lagi. Setelah hasil rontgen keluar beserta analisanya, bahwa tidak ditemukan masalah pada tulangku, kemungkinan itu otot punggungku yang terlalu tegang. Jadi setelah itu, aku mendapatkan obat pereda nyeri dari dokter (aku lupa nama obatnya apa saja) dan di berikan salep juga.

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 6)

Tetapi aku juga melakukan fisioterapi lagi hampir setiap hari selama seminggu lebih. Bener-bener nyeri banget rasanya. Bahkan disaat kerja bener-bener terganggu banget karena nyeri tulang belakang ini. Biasanya sebelum Menstruasi pasti mengalami nyeri tulang, ini masa mens sudah lewat tapi nyerinya berkepanjangan. Jadinya aku memutuskan untuk fisioterapi dan aku jelasin bagaimana nyeri yang aku rasakan dan tentunya aku jelasin kalau aku skoliosis.

Kebetulan aku dapet petugas cewek dan seumuran pula. Bahkan kami satu universitas hehe. Jadinya ngobrolnya lebih santai dan asik. Apalagi waktu itu aku lagi agak stres karena lagi patah hati (maklum anak muda hehe). Setelah di pasangkan alat-alat fisioterapi, aku diajak latihan untuk meregangkan otot dan aku harus ngelakuin itu saat kerja (duduk yang terlalu lama). Semenjak itu, aku hampir jarang mengeluh nyeri karena saat ngantor aku sering bangun lakukan peregangan hanya 3 menit lalu duduk lagi. Ngerasain nyerinya palingan karena bener-bener kecapean banget sama sebelum menstruasi.

Balik masalah patah hati ya, menurut aku ini, para skolioser kalo mau pacaran atau mau married ini, harus bener-bener yakin ya sama pasangannya. Apakah pasangan kita benar-benar menerima keadaan kita yang seperti ini? Semoga pasangan kalian masing-masing memang benar-benar tulus menerima keadaan kalian apa adanya. Berdasarkan pengalamanku sendiri, pacarku (eh sekarang sudah jadi mantan ya hehe) beberapa kali bila ada masalah bahkan sebelumnya pernah minta “selesai” karena aku skoliosis. Jedeerrr ! Jujur aku waktu itu dengarnya, kaget, bingung, marah, kesel, kecewa, beraduk jadi satu. Lalu aku memberikan penjelasan bahwa “Seorang skolioser mungkin dianggap remeh, lemah, dll di mata beberapa orang. Kami ini kuat ! Kami ini bisa berprestasi dan jauh lebih baik dari orang yang tanpa skoliosis. Skoliosis itu diberikan bagi orang yang hebat saja, yang mampu menjalaninya”. Tapi kalian pernah bayangin enggak, jika seseorang yang kamu cintai mengatakan karena skoliosismu, itu bisa menjadi bebannya kelak?

Baca Juga : Hidup dengan Skoliosis (Part 5)

Lah dulu bilang nerima kok sekarang enggak nerima? Nah hati-hati nih guys, sama jenis orang kaya begini nih. Aku harap kalian yang membaca ini enggak mengalami hal ini seperti aku ya. Emang sih masalah utama aku patah hati ini bukan skoliosis, karena yang aku bahas barusan ini sudah terjadi 4 tahun yang lalu dan aku memaafkannya. Tapi masalah patah hati ini, ujung-ujungnya juga bahas skoliosis juga. Hadeh capek deh ya..

Tapi sekarang akunya juga sudah biasa aja, sudah enggak patah hati lagi. Sudah sibuk sama pekerjaan dan membahagiakan diri. Cieh ceritanya sudah move on gitu. Wkwkwk. Aku harap bagi para skolioser, termasuk aku, semoga kita mendapatkan jodoh yang memang benar-benar dapat menerima skoliosis kita ya. Mungkin yang pernah mengalami hal yang sama seperti aku, bisa cerita juga dibawah ya.. Salam Skolioser ! ^^